Cipatat, Informannews.com
Diduga dampak kebijakan Gubernur Jawa Barat (Dedi Mulyadi) terkait SMP Negeri yang menetapkan minimal 50 siswa per kelas untuk SMP Negeri mulai terlihat di salah satu Sekolah Swasta di Kabupaten Bandung barat.

Kebijakan ini juga perlu dievaluasi secara mendalam, termasuk mempertimbangkan ketersediaan sarana prasarana dan dampaknya terhadap Sekolah-sekolah swasta yang terancam gulung tikar.

Terpantau awak media Informannews.com Senin 28 Juli 2025
saat berkunjung ke Sekolah Swasta SMP PGRI di Wilayah Kecamatan Cipatat saat menanyakan terkait PPDB pada tahun 2025 yang baru selesai, SMP PGRI Cipatat hanya mendapatkan 5 siswa baru untuk tahun 2025.

“Untuk siswa SMP kami hanya kemarin hanya ada 5 orang pak, mungkin ini dampak kebijakan Pemerintah yang harus mewajibkan minimal 50 siswa per kelas untuk SMP Negeri,” ujar stap SMP PGRI yang enggan di sebut namanya.

“Untuk tahun sebelumnya disini kita mendapatkan siswa lumayan pak, hanya di tahun sekarang Sekolah kita cuma dapat 5 murid, karena mungkin ya itu kebetulan kita berdekatan sama SMP Negeri Cipatat, jadi sebelum ke sini harus di penuhi SMP Negeri dulu,” ungkapnya.

Bukan hanya cuma mendapatkan siswa sedikit saja Infrastruktur bangunan Sekolah SMP PGRI Cipatat juga sangat memprihatinkan terpantau awak media dua ruang rombel sudah ambruk sekitar dua tahun kebelakang tidak terpelihara.

“Waktu kejadian ambruk dulu ruang kelas itu masih di pakai belajar dan untungnya tidak menimpa murid,” katanya

“Kami pihak sekolah sudah lama mengajukan untuk perbaikan dari Kepala sekolah terdahulu sampai sekarang sudah ganti Kepala sekolah,” tuturnya.

“Ya kami berharap Mudah-mudahan secepatnya sekolah kami bisa mendapatkan bantuan untuk perbaikan bangunan sekolah,” harapnya.

Terpisah saat awak media mencoba mengkonfirmasi Kepala bidang SMP Dinas pendidikan Kabupaten Bandung barat via chat Whatsapp terkait bangunan sekolah yang ambruk jawabannya singkat.

“Asalamualaikum
Ijin Pak Kabid untuk SMP PGRI yang di Cipatat kapan bisa di perbaiki apakah bisa tahun sekarang di rehab…??

“Waalaikumsalam, sekolah lebih tahu pak” jawaban Kabid SMP singkat.

Jawaban Kepala bidang SMP kepada awak Media terkesan tidak terbuka malah minta untuk menanyakan langsung kepada Kepala sekolah tersebut yang kebetulan, Kepala sekolah tidak ada di sekolah.

Terpisah salah satu Kepala desa di Cipatat mengatakan menurutnya dulunya sekolah SMP PGRI Cipatat sangat banyak siswa nya.

“Saya tahu itu sekolah SMP dulunya sangat banyak siswanya, mungkin sekarang jika mendapatkan siwa sedikit bisa saja karena para orang tua siswa melihat infrastruktur bangunan, apalagi di wilayah Cipatat sudah banyak persaingan sekolah,” ucapnya.

Jurnalis: AC.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *