Kota Bekasi – Informannews.com|| Setiap akhir pekan, ketika sebagian warga menikmati waktu beristirahat, para petugas piket kebersihan justru harus bekerja lebih keras. Mereka turun ke lapangan sejak pagi, membersihkan tumpukan sampah liar yang berserakan di sudut-sudut Kota Bekasi, terutama di wilayah Bekasi Utara yang menjadi salah satu titik rawan.
Ironisnya, sampah-sampah itu bukan berasal dari pasar atau kegiatan besar, melainkan dari perilaku masyarakat yang sengaja membuang sampah di lokasi yang bukan peruntukannya.
Beberapa lokasi kembali menjadi sorotan. Area perbatasan Kabupaten dan Kota Bekasi di Sasak Besi, tepat di depan KCM Jalan Perjuangan Teluk Pucung, kerap dipenuhi sampah liar meski telah dibersihkan berkali-kali.
Hal serupa terlihat di Jalan Kaliabang, Kecamatan Bekasi Utara, yang saban hari menjadi beban tambahan bagi petugas.
Tidak berhenti di situ, tumpukan sampah juga ditemukan di Rawa Silem, sebuah area yang kini semakin sering dijadikan lokasi pembuangan ilegal. Bahkan di Jalan Senopati Paku, sampah liar kembali bermunculan, membuat lingkungan terlihat kumuh dan menimbulkan aroma tidak sedap.
Padahal pada titik-titik tersebut, pemerintah telah memasang spanduk besar berisi larangan membuang sampah sembarangan lengkap dengan aturan hukum yang mengikat. Namun imbauan itu kerap diabaikan.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Lingkungan Hidup Kecamatan Bekasi Utara, Dedin Supriadi, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berusaha menjaga kebersihan wilayah, meski tantangannya semakin berat.
“Yang jelas kami dari Dinas Lingkungan Hidup UPTD Bekasi Utara terus memaksimalkan upaya menjaga kebersihan lingkungan agar tetap bersih dan sehat,” kata Dedin dilokasi, Minggu (7/12/2025).
Dedin menyebut, setiap minggu petugas harus membersihkan titik yang sama berulang kali karena perilaku warga yang belum berubah. Menurutnya, ini bukan hanya persoalan sampah, tetapi persoalan kesadaran.
Ia menegaskan bahwa kebersihan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Sangat dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, kelurahan, kecamatan, hingga para pengurus RT/RW. Kalau tidak ada kesadaran kolektif, sampah akan terus muncul,” ujarnya.
Dedin juga mengingatkan bahwa lingkungan yang kotor bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga memicu masalah kesehatan seperti penyakit kulit, demam berdarah, hingga pencemaran udara.
Ia berharap, ke depan masyarakat lebih peduli terhadap lingkungannya, bukan karena takut sanksi, melainkan karena kesadaran bahwa lingkungan bersih adalah hak dan kebutuhan bersama.
“Kami berharap masyarakat bisa ikut menjaga. Tidak butuh kemampuan khusus, cukup tidak membuang sampah sembarangan. Itu saja sudah sangat membantu,” ucapnya.
Dedin menambahkan bahwa pihaknya akan terus menggencarkan edukasi, termasuk rencana penambahan papan informasi serta penjagaan rutin di titik rawan agar masyarakat lebih tertib.
Di tengah pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota, persoalan sampah tidak akan pernah selesai bila masyarakat masih menganggap jalanan sebagai tempat pembuangan sampah. Upaya pemerintah akan sia-sia jika perilaku membuang sampah sembarangan tidak segera berubah.
Di balik kebersihan kota yang terlihat setiap pagi, ada keringat petugas yang bekerja tanpa banyak disorot. Mereka tidak meminta pujian, hanya berharap masyarakat ikut menjaga apa yang telah mereka bersihkan. (Rosadi)
