Bandung – InformanNews||Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang dihadapi sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di tengah bentang alam perbukitan yang hijau dan udara yang sejuk, sebagian masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh akses air bersih yang layak, terutama saat musim kemarau.
Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian, cakupan pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Desa Mekarmanik tercatat hanya sekitar 8,91 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan Bandung yang mencapai sekitar 48,24 persen. Kondisi ini membuat sebagian besar masyarakat harus bergantung pada sumber air swadaya, penampungan air hujan, maupun mata air perbukitan yang debitnya terus menurun dari waktu ke waktu.
Salah satu wilayah yang merasakan dampak paling nyata adalah Kampung Sentak Dulang. Keterbatasan akses air bersih menyebabkan warga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, hingga menjaga sanitasi lingkungan. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan, seperti penyakit kulit dan diare, terutama pada anak-anak.
Persoalan ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menunjukkan bahwa kerawanan air rumah tangga (Household Water Insecurity) di Desa Mekarmanik masih tergolong tinggi.

Selain faktor geografis berupa topografi perbukitan, perubahan fungsi lahan dan berkurangnya daerah resapan air turut memperburuk kondisi ketersediaan air bersih di wilayah tersebut.
Berangkat dari kondisi tersebut, Zahira Nur Asyifa (15), siswi SMP Negeri 1 Cileunyi yang akan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Cileunyi sebagai Kepala Divisi Kampanye Dan Advokasi Lingkungan – Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) sekaligus Finalis Duta Lingkungan Jawa Barat 2026, menggagas sebuah pilot project bertajuk SELASIH (Selamatkan Air Bersih).
Gagasan tersebut lahir dari kepeduliannya setelah membaca berbagai pemberitaan, laporan sosial, dan hasil penelitian mengenai krisis air bersih yang masih dialami masyarakat Desa Mekarmanik. Menurutnya, air bersih bukan hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.
“Ketika saya melihat masih ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, saya merasa bahwa isu ini tidak boleh dianggap biasa. Air adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Dari situlah saya terdorong untuk menghadirkan sebuah program yang dapat meningkatkan kesadaran sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air,” ujar Zahira.
Pilot project SELASIH dirancang sebagai program pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan edukasi, aksi, dan advokasi lingkungan dalam upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Melalui pendekatan edukasi, masyarakat akan diberikan pemahaman mengenai pentingnya konservasi air, pola penggunaan air yang bijak, hubungan antara perubahan tata guna lahan dengan ketersediaan air, serta dampak krisis air terhadap kesehatan dan sanitasi. Pada aspek aksi, program ini akan menghadirkan berbagai kegiatan partisipatif bersama masyarakat, seperti permainan edukatif bertema lingkungan, kampanye kesadaran air bersih, dokumentasi kondisi lingkungan melalui kegiatan foto bersama, diskusi warga, hingga pengenalan solusi sederhana yang dapat membantu menjaga ketersediaan air di lingkungan sekitar.
Sementara pada aspek advokasi, SELASIH berupaya membangun kesadaran kolektif agar isu air bersih menjadi perhatian bersama. Program ini mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga daerah resapan, memanfaatkan air secara bertanggung jawab, serta mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
SELASIH juga selaras dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
SDG 6: Clean Water and Sanitation (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan kesadaran dan akses terhadap pengelolaan air yang berkelanjutan.
SDG 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya pencegahan penyakit akibat keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.
SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi lingkungan kepada masyarakat dan generasi muda.
SDG 13: Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim) dengan mendorong konservasi sumber daya air sebagai bentuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
SDG 15: Life on Land (Menjaga Ekosistem Daratan) melalui peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga daerah resapan dan keseimbangan ekosistem.
Sebagai seorang generasi muda, Zahira percaya bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Melalui SELASIH, ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa menjaga air berarti menjaga kehidupan. Lebih dari sekadar program lingkungan, SELASIH diharapkan menjadi gerakan kecil yang mampu menumbuhkan kesadaran bersama bahwa akses terhadap air bersih merupakan hak setiap orang dan tanggung jawab seluruh pihak untuk menjaganya.
“Saya berharap SELASIH dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap isu air bersih, terutama di kalangan generasi muda. Karena ketika kita menjaga air hari ini, kita sedang menjaga kehidupan untuk masa depan,” tutup Zahira.




