Berita Utama TNI

TNI AD Temukan Kelebihan Beban dan Sejumlah Kerusakan Teknis Penyebab Insiden Jembatan Gantung Garuda Pangandaran

Jakarta — InformanNews|| TNI Angkatan Darat telah menyelesaikan pemeriksaan dan evaluasi teknis terhadap Jembatan Gantung Garuda di Pangandaran, Jawa Barat, menyusul kerusakan pada sistem sling saat peresmian.

Hasil investigasi menunjukkan adanya sejumlah kondisi teknis pada sistem jembatan yang secara bersamaan memengaruhi kinerja struktur, termasuk pembebanan yang melebihi kapasitas.

Permohonan Maaf dan Tanggung Jawab

TNI AD menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut, khususnya kepada masyarakat yang terdampak.

“Saya selaku Kepala Satgas jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujar Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., selaku Kepala Satgas Jembatan Garuda di hadapan awak media.

Temuan Hasil Investigasi

Berdasarkan pemeriksaan terhadap konstruksi dan sistem pendukung, tim menemukan beberapa kondisi teknis, antara lain:

  • Pengait block anchor mengalami patah
  • Konfigurasi dan posisi block anchor terhadap pylon tidak sesuai
  • Sistem roller dan turnbuckle perlu penyesuaian
  • Konfigurasi sling bawah
  • Perbedaan elevasi pada pylon

Selain itu, pada saat kejadian jembatan menerima beban secara bersamaan dari sekitar 50 orang. Berdasarkan analisis, hal ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja struktur.

Penjelasan Kapasitas Jembatan Perintis

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan bahwa Jembatan Gantung Garuda merupakan jembatan perintis yang dibangun sebagai solusi akses masyarakat di wilayah dengan kondisi geografis sulit untuk pembangunan jembatan beton.

“Jembatan perintis memiliki batas kemampuan atau kapasitas tertentu. Karena itu, aspek pembebanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaannya. Pada jembatan tersebut juga telah dicantumkan ketentuan mengenai batas jumlah orang yang dapat berada di atas jembatan,” jelasnya, Jumat (4/9/2026).

Tindak Lanjut Perbaikan dan Evaluasi

Untuk meningkatkan keselamatan, TNI AD telah melakukan upgrade pada sistem sling jembatan-jembatan perintis, termasuk peningkatan kekuatan sling sekitar 20 hingga 30 persen. Meski demikian, seluruh sistem jembatan tetap harus digunakan sesuai kapasitas dan ketentuan yang ditetapkan.

“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” lanjut Kadispenad.

Sebagai tindak lanjut, TNI AD akan melakukan penanganan dan penyempurnaan menyeluruh pada bagian-bagian yang berkaitan dengan sistem struktur jembatan. Evaluasi juga mencakup konfigurasi, keseimbangan, distribusi beban, serta penerapan ketentuan keselamatan pada jembatan perintis lainnya.

Sebelum kembali digunakan masyarakat, jembatan akan menjalani pemeriksaan dan pengujian teknis sesuai kebutuhan untuk memastikan kelayakan.

TNI AD menegaskan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Hasil investigasi ini akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan pembangunan jembatan ke depan, agar infrastruktur yang dibangun benar-benar memberikan manfaat secara optimal, aman, dan berkelanjutan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *