Cirebon, InformanNews— Rencana perluasan proyek energi panas bumi di Gunung Ciremai, Jawa Barat, menuai penolakan luas dari masyarakat. Proyek yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka itu awalnya dirancang berkapasitas 55 MW dan kini diwacanakan naik menjadi 150 MW di atas lahan seluas ribuan hektare di lereng gunung.
Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai ditetapkan pemerintah di kawasan lereng yang secara ekologis berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Gunung Ciremai selama ini dikenal sebagai “menara air” dan hulu dari sejumlah Daerah Aliran Sungai penting yang menopang kebutuhan air bersih warga Kuningan, Majalengka, Cirebon, hingga Indramayu.
Kekhawatiran utama warga bukan hanya soal perluasan kapasitas, tapi juga dampak ekologisnya. Isu alih fungsi kawasan, kerusakan ekosistem vulkanik aktif, hingga potensi pelepasan gas beracun menjadi sorotan. Pengeboran juga dikhawatirkan mengganggu debit mata air yang menjadi sumber utama air bersih masyarakat di kaki gunung.
Advokasi dan Suara Masyarakat
Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) menyatakan akan mengawal dan mengadvokasi penolakan ini. YBAI menyebut isu geothermal Ciremai sudah berlangsung bertahun-tahun dan bukan persoalan baru.
“Kami memberikan dukungan penuh terhadap gerakan advokasi yang dilakukan Ismah Winartono selaku Ketua Harian PA GMNI Kabupaten Kuningan dan Anggota Dewan Pakar YBAI. Ini pertaruhan nasib rakyat dan keberlanjutan lingkungan,” kata perwakilan YBAI.
Ismah Winartono menegaskan bahwa penolakan masyarakat sudah disuarakan sejak lama.
“Penolakan geothermal di Gunung Ciremai sudah berjalan bertahun-tahun. Ini bukan isu yang baru muncul saat ini. Ada suara kekhawatiran dan perjuangan masyarakat yang harus dihormati,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, organisasi, dan aktivis lingkungan untuk bersama mengawal rencana pembangunan tersebut.
“Ciremai bukan sekadar sumber energi. Ciremai adalah ruang hidup. Jangan pernah meminta masyarakat diam ketika ruang hidupnya dipertaruhkan. Mari kita bergandeng tangan untuk berjuang, karena kalau bukan kita siapa lagi,” tegas Ismah.
Catatan Ekologi
Sebagai gunung berapi aktif, Ciremai memiliki ekosistem khas yang rapuh. Selain fungsi hidrologisnya, kawasan ini juga menjadi habitat berbagai flora fauna endemik. Aktivis menilai setiap intervensi besar seperti pengeboran dalam skala 150 MW harus diuji secara menyeluruh terhadap daya dukung lingkungan dan ketersediaan air jangka panjang.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pengembang maupun pemerintah daerah terkait mekanisme konsultasi publik dan kajian dampak lingkungan lanjutan untuk skenario perluasan ke 150 MW. (Ahmad Sastra)




