KBB – INFORMANNEWS || Permasalahan sampah yang saat ini sedang menjadi topik pembahasan baik dikalangan pemerintah maupun masyarakat, hingga saat ini belum dapat terselesaikan secara optimal, karena sampah merupakan hasil produksi dari aktivitas manusia yang dihasilkan setiap hari.
Seperti halnya di Wilayah Bandung Barat, khususnya di Desa Sukajaya Kecamatan Lembang, dimana tempat Bank Sampah Panghegar berada, karena banyaknya aktivitas manusia maka secara otomatis semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
Dadan Rikmanto selaku ketua Bank Sampah Panghegar menyampaikan, pihaknya telah selama 8 Tahun mengelola sampah lingkungan secara mandiri, dengan sarana prasarana seadanya dan juga SDM anak-anak remaja yang peduli akan lingkungan.
“Selama ini kami berjalan dengan peralatan seadanya, tungku bakar manual yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, ini sudah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu, bahkan sebelum Bank Sampah Panghegar resmi didirikan dan memiliki legalitas” Ungkap Dadan.

Kemudian Dadan menambahkan, Bahwa dirinya dan jajaran pengurus Bank Sampah Panghegar, pengurus lingkungan para ketua RT/RW dan warga masyarakat setempat sangat termotivasi untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat, akan tetapi tidak berdaya untuk memaksimalkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan tersebut.
Hal tersebut yang mengantarkan Dadan dan rekan-rekan jajaran Bank Sampah Panghegar memohon pendampingan dari pihak Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) agar mendapat perhatian dari pemerintah, baik pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Pusat agar dapat membantu fasilitas/sapras Bank Sampah Panghegar. “Kami selaku masyarakat biasa, ya hanya dapat berusaha semampunya dan berharap bantuan baik dari pemerintah maupun pihak lainnya” Ujar Dadan.
Dalam hal ini Agnes Via Geraldi selaku Sekretaris Perempuan Hijau Indonesia (PHI) mewakili pihak YBAI selaku pendamping Bank Sampah Panghegar menyampaikan, bahwa kami sangat mengapresiasi dedikasi kang Dadan, jajaran pengurus, para ketua RT/RW serta seluruh warga dan rekan-rekan remaja di Kampung Barunagri yang telah konsisten menjaga lingkungan melalui Bank Sampah Panghegar selama 8 Tahun terakhir ini. Bertahan hampir satu dekade dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas bukanlah hal yang mudah, dan semangat gotong royong seperti inilah yang sebenarnya menjadi fondasi utama dalam penyelesaian masalah sampah.
Kemudian Agnes menegaskan, “kepedulian masyarakat tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan sistem dan fasilitas yang memadai. Kondisi peralatan seperti tungku bakar manual yang sudah memprihatinkan tentu menjadi salah satu perhatian serius bagi kami, karena pengelolaan sampah yang tidak ditunjang dengan sarana yang layak, justru berisiko menimbulkan dampak baru bagi kesehatan baik pekerja Bank Sampah maupun lingkungan sekitarnya”. Tegas Agnes.
Melalui Program KAMPUNG ASRI, Perempuan Hijau Indonesia (PHI) bersama Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) berkomitmen untuk ikut memperkuat kapasitas kelembagaan serta mengawal aspirasi Bank Sampah Panghegar. Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat maupun pihak swasta agar peduli dan memberikan bantuan sarana dan prasarana yang lebih modern dan aman. Sinergi antara inisiatif warga dan dukungan nyata dari pemerintah sangat dibutuhkan agar Bank Sampah Panghegar dapat berkembang lebih optimal dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat dan berkelanjutan.”Tutup Agnes. (Red)




