Jawa barat informannews

Budaya nusantara dengan perbedaan yang sangat unik dari setiap daerah menjadikan negara indonesia kaya akan keragaman akan adat tradisionalnya, akan tetapi di era modern sekarang ini mulai redup akibat tergerus modernisasi dan perkembangan zaman.

Ditengah redupnya kebudayaan dinegara indonesia, sebuah tempat yang bernama padepokan parukuyan di Jl. Bukit pakar timur, Ciburial – Bandung, terus aktif melaksanakan berbagai kegiatan budaya. Padepokan yang dipimpin oleh abah Yon Suparman ini menjadi magnet bagi para penggiat budaya yang masih cinta dan ingin budaya tetap lestari.

Seperti pada minggu tanggal 12 April 2026, padepokan menggelar kegiatan Ngaruwat Jagat 2026, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi para pecinta dan penggiat budaya dari seluruh wilayah di NKRI.

Kegiatan yang dilaksanakan sekali dalam saetahun ini ternayata telah dilaksanakan selama 26 kali pada tahun 2026 ini. Sama seperti pada pelaksanaan kegiatan ditahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini dihadiri oleh para pecinta dan penggiat budaya yang berasal dari berbagai daerah di NKRI. Ada dari jakarta atau betawi, provinsi banten, provinsi jawa tengah, madura, sumatera, sulawesi, papua, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pada kegiatan kali ini turut hadir Irjen Pol (Purn) Dr, Drs, H. Anton Charliyan, M.P.K.N./Abah Anton selaku ketua majelis adat budaya sunda Jawa Barat, Brigjen Pol Dinar Widargo Adinegoro, SIK, M.M. mewakili keraton mangkunagara solo Jawa Tengah, para pupuhu budaya, para pejabat daerah dan aparatur negara setempat, dan bahkan para pecinta budaya mancanegarapun turut hadir pada kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya abah Anton mengatakan, bahwa negara-negara maju telah menggunakan konsepsi budaya sebagai dasar kemajuan negaranya, banyak contohnya seperti : Inggris, Jèrman, Belgia, Jepang, dan masih banyak lagi negara maju karena mereka melakukan revolusi budaya, maka kita dinegara indonesia perlu adanya revolusi budaya, abah anton mengatakan bahwa untuk melestarikan budaya harus dengan fakta bukan hanya kata, beliau sempat terenyuh salah satunya dengan penampilan tari piring dari padang, karena tari tersebut telah diakui oleh negara lain di UNESCO, begitu juga silat mengalamu hal serupa, makanya dinegara kita disebut pencak silat. Menutup sambutannya beliau menyampaikan majelis adat budaya sunda yang dipimpinnya semoga dapat menjadi penyemangat para penggiat budaya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan. Dan kemudian beliau mengakhiri sambuatannya dengan pantun dan salam.

Ditempat yang sama, seorang pesilat muda berasal dari perguruan perisai diri pelopor kota cimahi, Mutiara Nuraini ketika diwawancarai menyampaikan, bahwa dirinya telah lama mengikuti kegiatan pencak silat, sebagai generasi muda yang masih duduk dibangku sekolah SMP ini mengaku dirinya sangat bangga bisa ikut melestarikan budaya warisan leluhur, apalagi sering tampil pada event-event pencak silat maupun kebudayaan, dirinya berharap budaya semakin maju, lebih banyak lagi yang ikut khususnya generasi muda, dan diakhir penyampaiannya Mutiara berpesan kepada pemerintah khusus pemerintah jawa barat agar budaya terus dilestarikan dan dukung.Tutupnya.

Ahmad Sastra

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *