Bekasi- InformanNews.com– Pada hari ini Senin tanggal 20 April 2026, utusan dinas lingkungan hidup (DLH) Kabupaten Bekasi melaksanakan kunjungan ke bank sampah GSP1 (Griya Setu Permai 1) yang berlokasi di Perumahab Griya Setu Permai 1, Blok C Jl. Cattleya RT 008/RW O10 Desa Ciledug Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi.

Kunjungan tersebut bertujuan sebagai kegiatan monitoring pihak Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam upaya mengevaluasi kegiatan bank sampah GSP1 tersebut.

Bank sampah ini telah berdiri sejak bulan Mei 2025 berarti telah setahun sudah usia bank sampah tersebut berjalan, namun berbagai kendala kami hadapi, salah satunya adalah edukasi kepada masyarakat, karena bank sampah tidak seperti tempat pembuangan akhir (TPA) sampah yang sangat instant cukup kumpul angkut dan buang.

Berbagai kendala yang kami alami salah antara lain : bimbingan secara tekhnis oleh tim ahli, sarana mesin pencacah plastik dan penyaluran hasil produksi plastik bank sampah.

Erohmah selaku ketua bank sampah GSP1 menyatakan harapan kepada pemerintah terkait program bank sampah yang dijalankan, yaitu agar dibina secara maksimal agar dapat menjadi nilai ekonomis bagi para petugas bank sampah, karena ini merupakan program pemerintah. Selain dari itu bank sampah GSP1 terus berupaya mengajak kepada masyarakat untuk membudayakan memilah sampah agar sampah dapat dikelola secara maksimal dan habis pada sumber.

Ditambahkan oleh Abu Rochim sebagai humas bank sampah GSP1, dirinya berpendapat, pemerintah seharusnya memberikan contoh secara konkret dalam praktek bank sampah, artinya jangan hanya meluncurkan program tanpa tindak lanjut pembinaan dan memfasilitasi sarana dan prasarana kepada pelaksana bank sampah.

Dalam kegiatan kunjungan tersebut juga hadir Yessa Amandha selaku Founder Ruah Hijau yang juga Duta Lingkungan Jabar, Yessa menegaskan, bahwa keberadaan bank sampah tidak boleh hanya dijadikan simbol program saja, tetapi harus diposisikan sebagai sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

Yessa yang juga menjabat sebagai kepala divisi kampanye dan advokasi lingkungan Yayasan Bentang Alam Indoensia (YBAI) ini dengan tegas menyatakan, persoalan utama bukan sekedar pada operasional, tetapi pada ekosistem yang belum dibangun secara utuh. Edukasi masyarakat, dukungan tekhnis, hingga akses pasar untuk hasil produksi limbah harus berjalan secara beriringan, tanpa itu semua bank sampah hanya akan berjalan ditempat dan bergantung pada semangat relawan semata.

Lebih dalam lagi yessa menyoroti akan pentingnya keberpihakan pemerintah dalam bentuk nyata, bukan hanya kebijakan diatas kertas. Fasilitasi sarana dan prasarana seperti mesin pencacah, pendampingan berkelanjutan, serta skema distribusi hasil daur ulang menjadi kunci agar bank sampah memiliki nilai ekonomis dan mampu bertahan dalam jangka waktu yang panjang.

Lebih lanjut Yessa mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk tidak lagi memandang sampah sebagai akhir dari konsumsi, melainkan sebagai tanggung jawab bersama sejak dari sumber. Budaya memilah harus menjadi kebiasaan, bukan sekedar himbauan.

“Kita tidak dapat hanya mengandalkan pola kumpuk-angkut-buang, kalau hulunya tidak dibereskan, maka hilirnya akan selalu kewalahan. Bank sampah adalah solusi, tapi tanpa keseriusan bersama, ia hanya akan menjadi program yang terus di ulang tanpa hasil yang sighnifikan, Ruah Hijau kedepan akan ambil bagian dengan mengawal pelaksanaan bank sampah GSP1 ini sampai dengan mendapatkan hasil yang maksimal, targetnya bank sampah tersebut agar dijadikan percontohan khususnya di Kabupaten Bekasi.” Tegasnya.

Ahmad Sastra

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *