InformanNews.com||Dalam upaya mendukung penguatan ketahanan pangan, Kelompok Wanita Tani (KWT) GSP 1 bersama BP2M (Blok Pelajar Politik Merdeka) menggelar kegiatan penanaman tanaman pangan pada hari Sabtu tanggal 11 Juli 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan anggota KWT, pemuda, serta relawan sebagai bentuk kolaborasi lintas generasi dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan. Melalui aksi menanam, peserta diajak untuk memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan menanam dan memanfaatkan hasil pangan secara berkelanjutan.
Dengan mengusung tema “Ketahanan Pangan”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara kelompok masyarakat dan generasi muda mampu menghadirkan aksi nyata dalam mewujudkan lingkungan yang lebih hijau sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

Yessa Amandha, selaku Founder Ruah Hijau sekaligus Deputi Director Bidang Pendidikan Dan Kaderisasi Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) menegaskan, ketahanan pangan tidak boleh berhenti sebagai slogan atau agenda seremonial. Hari ini kami menanam bersama KWT GSP 1 dan BP2M sebagai pengingat bahwa, persoalan pangan harus dimulai dari penguatan masyarakat di tingkat akar rumput. Ketika lahan produktif terus berkurang, alih fungsi lahan semakin masif, dan generasi muda semakin jauh dari sektor pertanian, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, tetapi juga masa depan bangsa.
Kemudian Yessa menambahkan, Negara memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada petani, melindungi lahan pangan, serta memastikan akses terhadap bibit, pupuk dan pendampingan yang memadai. Namun masyarakat juga tidak boleh hanya menjadi penonton. Ketahanan pangan lahir ketika kebijakan yang baik bertemu dengan partisipasi publik yang nyata. Menanam hari ini adalah bentuk keberpihakan kami terhadap masa depan, sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu mengimpor pangan, tetapi bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dengan mengandalkan kekuatan rakyatnya. Ketahanan pangan bukan sekedar urusan perut, tetapi urusan kedaulatan. Ketika sebuah bangsa tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, maka yang terancam bukan hanya ekonominya, tetapi juga kemerdekaannya. Tegas Yessa.
Ahmad Sastra




