Berita Utama

Fiona, Hadiri upacara adat nyangku Panjalu Ciamis.

Ciamis- InformanNews | Pemerhati dan penggiat pelestarian budaya tradisional Nusantara Fiona Callghan, M.Si, menghadiri upacara adat nyangku yang diselenggarakan di Panjalu Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat pada hari Senin 7 September 2026.

Upacara adat nyangku diselenggarakan oleh Yayasan Borosngora dengan dukungan para sesepuh adat Panjalu, Pemerintah Desa Panjalu dan keturunan Raja Panjalu. Pemerintah Kabupaten Ciamis sangat mengapresiasi atas konsistensi dan semangat gotong royong masyarakat Panjalu dalam menjaga dan merawat tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun temurun.

Nyangku, merupakan rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora, para raja, serta bupati panjalu. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga mengandung pesan spiritual tentang penyucian diri dan refleksi kehidupan.

Nama nyangku diyakini berasal dari bahasa arab yanko, yang berarti membersihkan, yang kemudian dilafalkan masyarakat sunda menjadi nyangku. Dalam pemaknaan masyarakat sunda, nyangku juga dimaknai sebagai “nyaangan laku” yakni menerangi prilaku.

Tradisi ini konon telah dilaksanakan sejak masa pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora sebagai bentuk penghormatan dan pengingat atas jasa beliau dalam menyampaikan ajaran islam kepada masyarakat dan keturunannya.

Bagi masyarakat Panjalu, prosesi membersihkan benda pusaka merupakan simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat untuk membersihkan diri, mengevaluasi prilaku, serta memperbaiki kehidupan agar senantiasa selaras dengan nilai adat dan agama.

Kehadiran Fiona dalam acara tersebut, manjadi bagian penghormatan terhadap warisan budaya dan kearifan lokal Panjalu, sekaligus memperkuat semangat untuk menjaga tradisi Nusantara agar tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dalam hal ini, Fiona yang juga menjabat selaku Ketua Dewan Pakar Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) mengatakan, “tradisi bukan sekedar warisan masa lalu, didalamnya terdapat nilai, pesan, dan tuntunan kehidupan yang masih relevan untuk kita bawa ke masa depan”. Tutupnya.

Ahmad Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *