SUKABUMI- INFORMANNEWS || Terlahir sebagai anak seorang petani di salah satu pelosok desa Kabupaten Sukabumi tidak pernah membatasi gagasan dan kepedulian seorang Syahrul Arifin. Berawal dari pemukiman warga desa yang tenang, kini namanya bergema hingga tingkat nasional sebagai sosok muda pelopor gerakan peduli lingkungan. Perjalanannya membuktikan satu hal: perubahan besar dan karya inspiratif bisa bermula dari tempat mana saja, bahkan dari balik bukit dan pematang sawah di kampung halaman.
Bencana Banjir 2024: Titik Balik Panggilan Jiwa.
Langkah awal kesadaran Syahrul terhadap isu lingkungan tidak lahir dari ruang kuliah yang terisolasi. Saat menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Fakultas Pertanian, Syahrul mendapatkan tugas Project Based Learning (PJBL) mata kuliah Pendidikan Pancasila pada semester 1 tahun 2024. Kelompoknya memilih topik banjir di Kota Sukabumi.
Ketika menelaah lapangan, Syahrul menemukan fakta pahit: banjir limpasan yang menelan kerugian materil maupun moril tersebut dipicu oleh hal sepele, yakni tumpukan sampah yang menyumbat gorong-gorong.
Syahrul mengatakan “Momen inilah yang menjadi titik balik. Bencana besar dan kerugian, ternyata bersumber dari minimnya empati masyarakat terhadap sampah. Peristiwa ini menjadi panggilan jiwa bagi saya untuk bergerak dan konsisten berdampak” ungkap Syahrul.
Aksi Nyata di Lapangan dan Inovasi Program Unggulan.Kepedulian Syahrul tak berhenti pada kajian di atas kertas. Ia aktif terjun ke lapangan bersama berbagai elemen, seperti organisasi Restoe Boemi, Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI), hingga mendampingi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat dalam program KKN Tematik Gradasi yang melibatkan puluhan ribu mahasiswa se-Bandung Raya. Mulai dari clean up sungai di Kecamatan Citamiang, pembuatan lubang biopori rumah tangga, hingga perancangan TPS3R telah ia jalani secara konsisten.
Selama perjalanannya menuju panggung provinsi, Syahrul membawa tiga gagasan utama:
- Satu Sekolah Satu Bank Sampah: Mengandeng Bank Sampah Induk Kota Sukabumi (Bank Sammi) untuk mengedukasi siswa membawa sampah dari rumah tanpa memberatkan sekolah dengan bangunan fisik.
- Hegar Manah: Gerakan membersihkan tempat ibadah/masjid agar masyarakat khusyuk beribadah.
- Junam (Jumat Menanam): Aksi penghijauan yang diadopsi dari tingkat kelurahan untuk memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Gagasan ini terus dimatangkan hingga melahirkan program inovatif unggulan bernama” Jaga Bangsa” (Jum’at Gerakan Menanam Merawat Generasi Bangsa). Program Jaga Bangsa dirancang khusus untuk menjawab akar masalah lingkungan: minimnya empati dan kualitas SDM. Melalui edukasi rutin dan regenerasi sejak dini kepada anak-anak, Jaga Bangsa hadir sebagai solusi jangka panjang dalam menumbuhkan budaya peduli lingkungan.
Menembus Top 6 Jawa Barat dan Menjadi Delegasi Nasional 2026.
Kerja keras, ketahanan fisik, mental, serta keaktifan tak kenal lelah di masyarakat mengantarkan Syahrul melewati proses seleksi yang ketat. Dari ratusan peserta se-Jawa Barat, ia berhasil menembus jajaran Top 6 Duta Lingkungan Provinsi Jawa Barat.
Atas keaktifan nyata di lapangan dan kedalaman pemahamannya terhadap isu-isu lingkungan, secara resmi mempercayakan Syahrul Arifin sebagai Delegasi Duta Lingkungan Provinsi Jawa Barat menuju ajang Duta Lingkungan Indonesia tingkat Nasional 2026.
Menjelang kompetisi tingkat nasional, Syahrul yang saat ini juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Badan Pelaksana Harian/BPH YBAI, tidak hanya memperkuat audiensi ke berbagai pejabat daerah hingga kementerian, tetapi juga bersiap menampilkan kebudayaan khas Sukabumi, yakni seni bela diri aliran Maung Bodas dari Pondok Pesantren Al-Fath.
Syahrul menambahkan “Menjadi delegasi ini adalah buah dari perjuangan. Filosofinya sederhana: jika kita menanam, insyaallah kita akan memanen. Kalau tidak pernah menanam, jangan pernah berharap mendapat hasil,” tutur anak petani asal Sukabumi ini penuh optimisme.
Ayo Dukung Perwakilan Jawa Barat di Panggung Nasional..!
Perjalanan Syahrul Arifin adalah cerminan semangat anak muda desa yang mampu menyinari sekelilingnya dengan edukasi dan aksi nyata. Tidak semua pemuda memiliki keberanian, konsistensi, dan empati sejauh ini untuk memikirkan bumi dan generasi mendatang.
Mari bersama-sama kita berikan apresiasi dan dukungan penuh kepada Syahrul Arifin, perwakilan Jawa Barat di ajang Duta Lingkungan Indonesia 2026. Dukungan kita adalah suntikan semangat bagi para pemuda di seluruh pelosok negeri bahwa dari manapun asal kita, kita bisa berkontribusi dan membawa perubahan nyata bagi Indonesia.
Ahmad Sastra




