BANDUNG – InformanNews || Ancaman krisis sampah membayangi kawasan Bandung Raya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sudah mengalami kelebihan kapasitas (overload) dan diprediksi akan mengalami kelebihan yang luar biasa pada Desember tahun ini. Jika TPA ditutup, hal itu akan menjadi problem utama di tengah masyarakat.
Di sisi lain, proyek fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi Waste to Energy (WTE) baru diperkirakan rampung sepenuhnya pada tahun 2030 mendatang.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat dengan meluncurkan GRADASI (Gerakan Gotong Royong Bersinergi dan Inovasi). Acara peresmian dan konsolidasi gerakan ini digelar di lingkungan Sekretariat Daerah (Sekda) Jawa Barat, Kantor Gubernur Gedung Sate.
Hadir langsung memimpin jalannya acara, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Dr. Drs. Herman Suryatman, M. Si, bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat. Dalam arahannya, Sekda menegaskan bahwa kunci utama untuk memperpanjang usia pakai TPA Sarimukti hingga 2030 adalah dengan melakukan penanganan sampah secara terpusat dan masif di tingkat hulu atau sumber sampah.
Libatkan 25.000 Mahasiswa KKN Tematik
Untuk menyentuh lapisan masyarakat paling bawah, Pemprov Jabar merangkul para camat dan lurah di seluruh kawasan Bandung Raya. Namun, penanganan di hulu tidak hanya dibebankan kepada aparat kewilayahan.

Melalui kolaborasi strategis bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (via LLDikti), program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik resmi diterjunkan. Sekitar 25.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi akan disebar ke wilayah Bandung Raya untuk melakukan edukasi, pemilahan, dan pengolahan sampah mandiri di tingkat RT/RW.
Sebagai bentuk apresiasi dan komitmen akademik, para mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan ini mendapatkan bobot konversi hingga 10 SKS. Dengan skema ini, target penurunan volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti ditetapkan minimal sebesar 30 persen.
Replikasi Model Sukses Arcamanik
Aksi GRADASI bukan sekadar wacana di atas kertas. Pemprov Jabar mengadopsi dan mereplikasi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang sebelumnya telah terbukti berhasil di beberapa titik percontohan (pilot project), salah satunya di Arcamanik. Keberhasilan tersebut kini diperluas secara serentak ke seluruh penjuru Bandung Raya.
Program kerjanya jelas dan terarah, di mana nantinya mahasiswa akan turun ke lapangan dan memberikan edukasi serta aksi pemilahan sampah dengan metode yang disesuaikan dengan pilihan pihak kampus yang terlibat di daerahnya. Setiap daerah juga didampingi oleh PIC dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi.
Acara konsolidasi ini juga semakin semarak dengan hadirnya para figur muda penggerak lingkungan yang dilibatkan oleh DLH Provinsi Jabar. Mereka adalah pemuda-pemudi yang berada di bawah naungan Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI), di antaranya Syahrul Arifin (Finalis Duta Lingkungan Indonesia 2026/Deputi Program YBAI) delegasi Provinsi Jawa Barat, Nayla Ramandhinya (Duta Lingkungan Jawa Barat 2025/Direktur Perempuan Hijau Indonesia), dan Zahira Nur Asyifa (Duta Lingkungan Jawa Barat 2026/Wakil Direktur Perempuan Hijau Indonesia) yang didampingi oleh Hafizh Fabian Al Farisy selaku Ketua Bidang Public Relation Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI).
Kehadiran para duta sekaligus penggiat lingkungan muda ini menjadi simbol bahwa penanganan krisis sampah memerlukan partisipasi aktif generasi muda sebagai agent of change dalam mengubah budaya dan kebiasaan memilah sampah di masyarakat. Sehingga akan membantu pemerintah dalam upaya penyelesaian sampah pada sumber atau hulu.
Menanggapi hal ini, pihak YBAI melalui Saatun Nuzuliyah, S.T., M. Pd., atau yang akrab disapa Mba Lia, memberikan apresiasi kepada Pemprov Jabar.
“Krisis sampah bukan semata-mata persoalan teknis atau kapasitas tempat pembuangan akhir atau hilir, melainkan tantangan perubahan budaya, literasi ekologis, dan kesadaran kolektif yang harus kita bangun dari akar rumput. Melalui inisiatif GRADASI, kita melihat bukti nyata hadirnya sinergi pentahelix di mana pemerintah, akademisi, pemuda dan masyarakat bergerak bersama dari hulu,” ujar Lia.
Mba Lia yang berprofesi di dunia pendidikan sebagai guru dan juga sebagai Duta Lingkungan Nganjuk 2023 ini menambahkan, keterlibatan puluhan ribu mahasiswa bersama para pegiat muda lingkungan membuktikan bahwa edukasi yang menyentuh ranah aksi nyata dan pembiasaan sehari-hari di tingkat rumah tangga adalah kunci utama transformasi lingkungan.
“Kami di YBAI percaya, ketika perempuan, pemuda, dan komunitas lokal berdaya dalam mengelola sampahnya sendiri secara berkelanjutan, kita tidak hanya berhasil memperpanjang usia TPA Sarimukti, tetapi juga sedang merawat bumi dan mewariskan ekosistem hidup yang lebih bermartabat bagi generasi masa depan,” tutup Lia.
(Ahmad Sastra)




