Bandung Barat – Rencana pengembangan program Agroeduwisata oleh Kelompok Tani dan Peternak Sapi Perah SARI MUKTI, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Program yang didampingi oleh Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) ini saat ini sedang mengajukan bantuan melalui Tim Fasilitasi CSR Jawa Barat, dengan harapan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan perusahaan mitra.
Tokoh Ulama dan Budayawan Jawa Barat, Buya Prof. Dr. Adv. Hamdan Firmansyah, M.M.Pd, M.Si, M.H., C.L.A., C.T., C.M.T., yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat YBAI, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Menurutnya, konsep agroeduwisata merupakan strategi tepat dalam pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pertanian, pendidikan, dan pariwisata.
“Program ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola potensi daerah secara berkelanjutan, sekaligus menciptakan peluang kerja baru dan mendukung pelestarian lingkungan,” ujar Buya Hamdan.
Beliau menilai Lembang dan Kabupaten Bandung Barat sangat potensial menjadi lokasi pilot project, mengingat wilayah ini kaya akan sumber daya alam dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, pekebun, dan peternak.
Konsep Holistik dan Pengelolaan Limbah
Buya Hamdan menjelaskan bahwa komponen utama agroeduwisata mencakup pemberdayaan, peningkatan kapasitas petani, diversifikasi ekonomi, edukasi, konservasi, hingga pembangunan sarana. “Agroeduwisata bukan hanya tentang pariwisata, melainkan struktur terencana untuk memperbaiki sistem sosial dan ekonomi masyarakat setempat,” tegasnya.
Sementara itu, pihak YBAI juga mengapresiasi semangat kelompok tani tersebut. Ke depannya, tidak hanya pengembangan sektor pertanian dan peternakan, namun juga akan dibangun rumah eco enzyme dan kompos. Inisiatif ini bertujuan mengelola limbah organik menjadi barang yang bermanfaat, sejalan dengan contoh positif yang telah dilakukan di Tasikmalaya.
Butuh Dukungan Semua Pihak
Untuk mewujudkan program ini menjadi nyata, Buya Hamdan menegaskan perlunya dukungan menyeluruh. Mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga Corporate Social Responsibility (CSR) dari sektor swasta.
“Kolaborasi ini krusial untuk mengubah potensi pertanian menjadi daya tarik objek wisata edukatif yang berdaya saing, memberdayakan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan sejalan dengan tema ‘Jabar Istimewa’,” pungkasnya.
(Ahmad Sastra)
