Kab, Bandung- InformanNews.com– Banjir kembali melanda kecematan dayeuhkolot wilayah Bojong Asih, sejak Jumat malam (10/4/2025). Hingga kini, air belum juga surut sepenuhnya dan terus menggenangi permukiman warga.
Dianisa Nurul Fadilah, perwakilan komunitas Day Green dan Relawan Berlayar sekaligus warga RT 03 RW 05 Bojong Asih, mengungkapkan bahwa air naik dengan sangat cepat sejak awal kejadian.
“Banjir mulai Jumat malam, (10/4/2025). Kenaikan airnya lumayan cepat, awalnya sekitar 70 sampai 100 sentimeter, tapi bisa tiba-tiba naik lagi,” ujarnya.
Wilayah yang terdampak paling parah meliputi RW 34, RW 14, dan RW 05. Bahkan di beberapa titik, ketinggian air sempat mencapai 130 hingga 150 sentimeter hanya dalam waktu singkat.
Yang lebih memprihatinkan, banjir tidak pernah benar-benar surut. Air hanya turun sekitar 10–15 sentimeter, lalu kembali naik hingga 50 sentimeter.
“Kita nggak pernah benar-benar kering. Air selalu ada,” tambah Dianisa.
Aktivitas Lumpuh, Warga Terjebak di Rumah
Banjir yang berkepanjangan menyebabkan
aktivitas warga lumpuh total. Sekolah-sekolah terendam dan kegiatan belajar mengajar terhenti.
Sejumlah warga juga terpaksa tidak bekerja karena akses keluar masuk wilayah sangat sulit dan kondisi air yang tidak menentu.
“Banyak yang memilih di rumah karena takut air tiba-tiba naik. Ada juga yang tetap berangkat kerja, tapi harus pakai perahu,” jelasnya.
Dalam kondisi darurat, bahkan perempuan turut membantu mendorong perahu demi mengantar anggota keluarga bekerja.
Kebutuhan Mendesak: Air Bersih hingga Logistik Bayi
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan dasar menjadi prioritas utama warga terdampak. Air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak, diikuti makanan siap saji serta perlengkapan bayi dan lansia.
“Yang paling dibutuhkan itu air bersih, makanan siap makan, dan kebutuhan bayi. Apalagi akses ke beberapa wilayah sulit,” kata Dianisa.
Minim Perahu dan Lambatnya Evakuasi
Dalam proses evakuasi
keterbatasan perahu menjadi kendala utama. Meski bantuan dari relawan dan pemerintah ada, distribusinya dinilai belum optimal.
“Perahu dari kecamatan ada, tapi aksesnya sulit. Jadi evakuasi sempat terhambat,” ungkapnya.
Warga dan relawan akhirnya mengandalkan perahu pribadi untuk membantu evakuasi, terutama di gang-gang sempit.
Diduga Akibat Tata Ruang dan Drainase Buruk.
Menurut Dianisa, banjir yang terjadi bukan sekadar bencana alam, melainkan dampak dari buruknya tata ruang dan sistem drainase.
“Daerah resapan air berkurang, gorong-gorong banyak yang tidak berfungsi, ditambah sampah yang menyumbat,” jelasnya.
Selain itu, wilayah Dayeuhkolot juga menjadi titik pertemuan aliran air dari berbagai kawasan Kota Bandung, sehingga debit air yang masuk sangat besar.
“Air dari Bandung Timur dan Tengah semuanya lari ke sini. Dayeuhkolot jadi seperti penampungan,” tambahnya.
Pompa Air dan Infrastruktur Dinilai Tidak Optimal
Warga juga menyoroti kinerja pompa air (folder) yang dinilai tidak maksimal. Pompa baru diaktifkan setelah kondisi semakin parah.
“Seharusnya pompa jalan 24 jam. Tapi kemarin alasannya solar habis atau mesin bermasalah,” ujarnya.
Padahal, menurut warga, jika seluruh fasilitas berfungsi optimal sejak awal, genangan air bisa lebih cepat surut.
Tanpa pembenahan menyeluruh, penanganan darurat hanya menjadi rutinitas tahunan yang berulang tanpa perubahan signifikan.
Warga pun berada dalam situasi dilematis: bertahan di tengah banjir atau meninggalkan sumber penghidupan mereka.
Banjir Semakin Parah dari Tahun ke Tahun.
Banjir di Dayeuhkolot bukan hal baru. Namun, intensitas dan dampaknya terus meningkat.
Jika sebelumnya banjir besar terjadi setiap lima tahun sekali, kini hampir terjadi setiap waktu.
“Dulu ada istilah banjir lima tahunan. Sekarang hampir setiap hari,” kata Dianisa.
Ia menambahkan, kondisi saat ini bahkan menyerupai banjir besar tahun 2005, dengan ketinggian air yang sama.
Banjir di Dayeuhkolot menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan tata kota tidak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan solusi berkelanjutan, agar wilayah ini tidak terus-menerus menjadi “penampungan air” setiap musim hujan.
Harapan warga: solusi jangka panjang
Warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga menghadirkan solusi jangka panjang yang menyentuh akar masalah.
Mulai dari perbaikan tata ruang, normalisasi sungai, pengelolaan sampah, hingga optimalisasi sistem drainase dan pompa air.
“Kami butuh penanganan yang menyeluruh, bukan hanya saat banjir datang,” tegas Dianisa.
( M Rizky )
