Sukabumi- InformanNews | Kondisi bangunan SDN Cilampahan di Kampung Kiaralawang, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, menuai perhatian publik. Kondisi sekolah tersebut ramai diperbincangkan setelah rekaman video yang memperlihatkan kondisi bangunan beredar di media sosial Facebook.
Dalam rekaman itu tampak sejumlah bagian bangunan sekolah mengalami kerusakan. Beberapa jendela bahkan terlihat ditutup menggunakan bilah bambu karena kondisinya sudah tidak layak.
Kerusakan ternyata tidak hanya terjadi pada bagian jendela. Bagian atap sejumlah ruang sekolah juga dilaporkan mengalami kerusakan dan kebocoran.
Kepala SDN Cilampahan, Mustopa, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, sebelumnya sejumlah perbaikan sempat dilakukan secara swadaya dengan melibatkan orang tua siswa dan masyarakat sekitar.
“Memang kondisinya bukan hanya jendela yang rusak. Bagian atap juga sudah mengalami kerusakan dan sebelumnya sempat diperbaiki secara swadaya oleh orang tua murid bersama warga sekitar,” ujar Mustopa saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, upaya perbaikan secara swadaya belum dapat menyelesaikan seluruh kerusakan. Terlebih saat hujan turun, kebocoran pada atap membuat air masuk ke sejumlah ruangan.
“Kalau hujan, air pasti masuk karena atapnya sudah banyak yang bocor. Ada ruangan yang akhirnya tidak bisa digunakan dengan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar,” katanya.
Mustopa yang belum lama menjabat sebagai kepala sekolah tersebut mengaku prihatin setelah melihat langsung kondisi bangunan. Pihak sekolah pun berencana melaporkan kondisi tersebut kepada instansi terkait sekaligus mengusulkan perbaikan.
“Kami sebagai pihak sekolah dalam waktu dekat akan mengajukan laporan dan permohonan perbaikan kepada dinas terkait. Harapannya tentu kondisi bangunan ini bisa segera mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat sedikitnya empat ruangan yang kondisinya cukup riskan apabila tetap digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut menjadi perhatian pihak sekolah mengingat ruangan digunakan setiap hari oleh siswa dan guru.
“Kalau melihat kondisinya, memang ada empat ruangan yang benar-benar riskan untuk digunakan. Kami tentu sangat khawatir, karena menyangkut keselamatan anak-anak. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan,” tegas Mustopa.
Saat ini, SDN Cilampahan memiliki sekitar 130 siswa. Proses pembelajaran didukung delapan tenaga pengajar dan seorang kepala sekolah.
Pihak sekolah berharap dinas terkait dapat turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kondisi bangunan sehingga tingkat kerusakan dapat diketahui secara menyeluruh dan langkah penanganannya bisa segera ditentukan.
Harapan serupa disampaikan orang tua siswa. Mereka menginginkan perbaikan dilakukan secara menyeluruh, terutama terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan berat, bukan sekadar penanganan sementara.
“Yang paling utama tentunya keselamatan siswa. Kami ingin anak-anak bisa belajar dengan tenang, aman dan nyaman,” pungkas Mustopa. (Jiend)




