Uncategorized

Dispora Kota Bandung Gelar Acara Diskusi Pemuda Menata Kota yang Diselenggarakan di Hotel California

Bandung- Informannews.com|| Pada hari Kamis tanggal 11 Desember 2025 bertempat di California Hotel Bandung, telah diselenggarakan sebuah kegiatan pemuda menata kota, acara tersebut mengagendakan pembahasan seperti : penguatan indeks pembangunan pemuda (IPP) Kota Bandung, peran pemuda dalam perencanaan dan penataan kota.

pengembangan ruang publik yang lebih inklusif dan aksesibel, kolaborasi lintas komunitas untuk program kepemudaan dan penguatan partisipasi warga, khususnya generasi muda dalam pembangunan kota.

Acara yang diselenggarakan oleh Dispora Kota Bandung bekerjasama dengan Connecting Bandung Community dihadiri kurang lebih 30 komunitas lintas sektoral, mulai dari lingkungan, sosial, kesehatan, pendidikan, gender, partisipasi, transportasi dan juga hadir KNPI Kota Bandung.

Hadir juga dalam kegiatan tersebut Yessa Amanda yang disapa akrab teh Yessa, pemudi yang merupakan mahasiswi fakultas bahasa asing Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini, juga merupakan sebagai Duta Lingkungan Jabar 2025, dalam kesempatan kali ini Yessa hadir mewakili komunitas Ruah Hijau, komunitas yang ia dirikan nertujuan menjadi wadah pemuda pemudi untuk ikut berperan aktif dalam pelestarian lingkungan, baik dalam bentuk kajian, aksi, maupun advokasi, komunitas ini berdiri dibawah naungan Yayasan Bentang Alam Indonesia berfokus pada kegiatan pelestarian lingkungan baik diJawa Barat maupun diwilayah NKRI pada umumnya.

Dalam kesempatan tersebut Yessa memaparkan sebuah program Ruah Hijau kepada peserta yang hadir, salah satunya adalah ekonomi serkular dalam bentuk kegiatan budidaya magot, Yessa menjelaskan bahwa magot ini sangat berpotensi untuk dibudidayakan, selain memiliki fungsi untuk membantu pengurangan sampah pada sumber, maggot juga memiliki nilai ekonomis yang dapat menjadi penghasilan bagi pembudidaya.

Yessa juga menyampaikan dalam waktu dekat ini pihaknya akan menyelenggarakan workshop pengelolaan minyak jelantah yang dibuka untuk umum.

Yessa juga menjelaskan diskusi lintas sektoral dalam kegiatan tersebut juga telah menunjukkan bahwa pemuda sudah mampu membaca isu kota dengan pendekatan multidispliner, sebuah kapasitas yang seringkali justru belum dimiliki oleh struktur resmi yang berkaitan langsung dengan kebijakan, dari sisi inovasi, para pemuda ini sebenarnya sudah berada beberapa langkah lebih maju dibandingkan ritme birokrasi.

Ide-ide yang muncul bukan sekadar wacana, tetapi model intervensi yang feasible, mereka hanya menunggu akses politik dan struktural untuk diwujudkan. Artinya, problem kita bukan kurangnya inovasi, melainkan kurangnya kanal yang memungkinkan inovasi tersebut diterjemahkan dalam kebijakan publik.

Kemudian Yessa juga menyampaikan bahwa harapannya kedepan, pemerintah dapat menata ulang pola komunikasinya. Kota tidak bisa berkembang bila dialog yang disediakan hanya formalitas dan satu arah. Pemuda bukan objek program, tetapi mereka subjek kebijakan.

Maka ketika ruang dialog dibuka, kehadiran pemangku kebijakan bukan opsional, bukan “datang kalau sempat’, melainkan bagian dari tanggung jawab institusional. Karena selama ini terlalu banyak forum yang kehilangan bobot karena pejabat yang diundang hilang tanpa konfirmasi, dan ini tidak boleh dinormalisasi.

Yessa menambahkan selain itu, desain kepemudaan perlu berevolusi. Kota yang ingin maju tidak cukup menyediakan seminar seremonial yang hanya menyampaikan materi tanpa membuka ruang diskusi.

Pemuda tidak membutuhkan acara yang ‘mengisi waktu’. Mereka membutuhkan ruang yang memungkinkan gagasan diuji, disandingkan, dan ditindaklanjuti. Jika pemerintah ingin melibatkan pemuda, maka subtansinya harus dialog bukan monolog. Pungkasnya. ( Redaksi IN )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *