Sukabumi – InformanNews || Kerusakan lantai Jembatan Cibuaya 2 di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, menjadi perhatian warga dan pengguna jalan. Penurunan pada bagian lantai jembatan dikhawatirkan mengancam keselamatan pengendara, terlebih akses tersebut menjadi salah satu jalur menuju kawasan wisata Pantai Cibuaya.
Berdasarkan pantauan dilapangan pada Sabtu (24/10/2026), lantai jembatan pada sisi kiri terlihat mengalami penurunan. Kondisi tersebut mendorong warga setempat mengambil langkah antisipasi secara mandiri dengan menempatkan sebuah kursi di sekitar titik kerusakan sebagai penanda agar pengendara lebih waspada.
Meski terkesan sederhana, keberadaan penanda darurat itu mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi jembatan yang setiap hari dilintasi kendaraan. Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Persoalan ini dinilai semakin mendesak karena Jembatan Cibuaya 2 berada di ruas jalan Ujunggenteng–Ciracap, yang merupakan jalan kabupaten. Selain menunjang aktivitas masyarakat, jalur tersebut juga menjadi akses penting bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Pantai Cibuaya, terutama saat musim liburan.
Diduga Terbebani Kendaraan Melebihi Kapasitas
Kepala UPTD PU Wilayah Ciemas, Dadang Koswara, menjelaskan bahwa Jembatan Cibuaya 2 sebelumnya telah direkonstruksi sekitar dua tahun lalu melalui pekerjaan yang dilaksanakan pihak ketiga.
Menurut Dadang, jembatan tersebut dirancang untuk menahan beban kendaraan dengan tonase maksimal 8 ton. Namun, sekitar enam hari sebelum pemantauan dilakukan, ditemukan penurunan pada lantai jembatan bagian kiri.
“Jembatan Cibuaya 2 yang berada di ruas jalan Ujunggenteng–Ciracap, tepatnya di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, merupakan jalan kabupaten dengan kekuatan tonase 8 ton. Sekitar enam hari lalu terjadi penurunan lantai jembatan sebelah kiri,” kata Dadang.
Ia menyampaikan, berdasarkan informasi dari warga sekitar, kerusakan tersebut diduga berkaitan dengan melintasnya sebuah truk yang memiliki tonase sekitar 12 ton, atau melebihi kapasitas beban jembatan.
“Menurut keterangan warga sekitar, ada truk dengan tonase 12 ton yang melintas sehingga diduga menyebabkan lantai jembatan mengalami penurunan,” ujarnya.
Kendati demikian, penyebab pasti kerusakan masih memerlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut. Karena itu, kondisi jembatan perlu mendapat perhatian agar tingkat keamanan dan kelayakannya dapat dipastikan sebelum terjadi kerusakan yang lebih serius.
Dadang menyebutkan, untuk sementara kendaraan roda dua dan roda empat dengan berat di bawah 8 ton masih memungkinkan melintas. Namun, pengguna jalan tetap diminta berhati-hati ketika melewati bagian jembatan yang mengalami penurunan.
Rekonstruksi Direncanakan pada 2027
Mengenai penanganan kerusakan, Dadang mengungkapkan bahwa perbaikan melalui kegiatan perubahan anggaran tahun 2026 sulit direalisasikan karena waktu pelaksanaan yang semakin terbatas.
Sebagai alternatif, rekonstruksi jembatan direncanakan masuk dalam kegiatan reguler tahun anggaran 2027. Dalam rencana tersebut, penanganan tidak sekadar dilakukan dengan memperbaiki bagian yang rusak, melainkan melalui pembongkaran dan pembangunan kembali secara menyeluruh.
“Kalau dimasukkan ke kegiatan perubahan tahun 2026, waktunya sudah terlalu mepet. Rencananya, penanganan akan dilaksanakan pada kegiatan reguler tahun 2027 melalui rekonstruksi jembatan, sehingga nantinya dibongkar total,” jelasnya.
Rencana tersebut menjadi perhatian warga karena kerusakan sudah terlihat, sementara pelaksanaan rekonstruksi masih menunggu tahun anggaran berikutnya. Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada perbaikan permanen, tetapi juga mempertimbangkan langkah pengamanan sementara selama masa tunggu.
Warga Khawatir Arus Wisata Terganggu
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, arus kendaraan menuju sejumlah destinasi wisata di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi berpotensi meningkat.
Jika kondisi jembatan tidak segera ditangani, kerusakan tersebut dikhawatirkan dapat menghambat perjalanan masyarakat maupun wisatawan. Pengendara yang melambat saat melewati titik kerusakan juga berpotensi memicu antrean kendaraan, terutama ketika volume lalu lintas meningkat.
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan berharap pemerintah daerah segera melakukan pemeriksaan dan mengambil tindakan nyata sebelum memasuki puncak musim liburan.
“Kami berharap jembatan ini segera ditinjau dan diperbaiki. Jangan sampai menunggu sampai tahun depan, sementara kondisi kerusakannya terus bertambah. Apalagi sebentar lagi memasuki musim libur Natal dan Tahun Baru, biasanya wisatawan yang menuju Pantai Cibuaya meningkat,” ungkapnya.
Warga menilai pemasangan penanda secara swadaya belum cukup untuk menjamin keselamatan pengguna jalan. Diperlukan langkah pengamanan yang lebih memadai, seperti pemasangan rambu peringatan resmi, pengaturan kendaraan apabila diperlukan, serta pemeriksaan kondisi konstruksi oleh petugas berwenang.
Menurutnya, keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas, terlebih jembatan tersebut merupakan bagian dari akses penghubung masyarakat dan kawasan wisata.
“Kalau nanti kendaraan wisatawan ramai saat libur Nataru, kami khawatir terjadi kemacetan, apalagi kalau pengendara harus bergantian melewati bagian jembatan yang rusak. Kami berharap sebelum musim liburan tiba, sudah ada penanganan agar perjalanan masyarakat dan wisatawan lebih aman dan lancar,” tambahnya.
Menunggu Langkah Konkret Pemerintah
Kondisi Jembatan Cibuaya 2 kini menjadi pekerjaan rumah bagi instansi terkait, terutama dalam memastikan keamanan akses jalan sebelum rekonstruksi permanen dilaksanakan.
Pemeriksaan teknis, pemasangan perlengkapan keselamatan, serta penentuan langkah penanganan darurat menjadi hal yang diharapkan segera dilakukan. Dengan demikian, risiko terhadap pengguna jalan dapat diminimalkan tanpa harus menunggu pembangunan kembali jembatan pada 2027.
Masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Sukabumi dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Selain untuk menjaga kelancaran mobilitas warga, penanganan yang tepat juga diperlukan untuk mendukung kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Pantai Cibuaya.
Bagi warga, persoalan ini bukan semata-mata tentang kerusakan infrastruktur, melainkan juga menyangkut keselamatan dan keberlangsungan aktivitas masyarakat. Mereka berharap sebelum lonjakan kendaraan pada libur akhir tahun terjadi, sudah ada langkah nyata untuk memastikan Jembatan Cibuaya 2 tetap aman dilalui.(JiEnd)




