InformanNews.com|| Pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, umat Islam kembali memperingati salah satu momentum terbesar dalam sejarah penghambaan kepada Allah SWT, yaitu peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. Peristiwa tersebut bukan hanya menjadi simbol ketaatan spiritual, tetapi juga menjadi pelajaran besar tentang keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama manusia.
Dalam ajaran Islam, qurban bukan sekadar penyembelihan hewan semata. Al-Qur’an menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan qurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hamba-Nya. Karena itu, Idul Adha sesungguhnya mengajarkan bahwa ibadah harus melahirkan kepedulian sosial, kasih sayang, serta rasa persaudaraan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan dan perhatian.
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tekanan hidup, kenaikan kebutuhan pokok, dan ketidakpastian ekonomi global, nilai-nilai Idul Adha menjadi semakin penting untuk dihidupkan kembali. Ketika sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, qurban menjadi bentuk nyata bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan kepada Allah SWT dan tanggung jawab sosial kepada sesama manusia.
Pada Idul Adha tahun ini, gerakan qurban nasional kembali dilakukan melalui penyaluran 150 ekor sapi qurban ke berbagai daerah Indonesia melalui relawan Haidar Alwi Care dan tim RBR atau tim Rakyat Bantu Rakyat yang selama ini aktif bergerak membantu masyarakat di berbagai wilayah nusantara. Sebelumnya, pada Idul Adha tahun lalu, sebanyak 145 ekor sapi qurban juga telah disalurkan ke berbagai daerah Indonesia sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan yang terus berjalan secara konsisten dari tahun ke tahun.
Distribusi qurban tersebut dilakukan melalui jaringan relawan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa Tengah seperti Bumiayu, Brebes, Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Kebumen, Tegal, dan Semarang, wilayah Jawa Barat seperti Bandung, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Pangandaran, Banjar, Sukabumi, dan Cirebon, hingga wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Banyuwangi, Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro.
Gerakan sosial tersebut juga berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo, serta wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Di luar Pulau Jawa, relawan Haidar Alwi Care dan tim Rakyat Bantu Rakyat juga terus bergerak di berbagai daerah Sumatera seperti Palembang, Lampung, Medan, Padang, Pekanbaru, Bengkulu, Jambi, Aceh, dan Batam. Di kawasan Kalimantan, relawan hadir di Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak, dan Palangkaraya. Sementara di kawasan Sulawesi, gerakan sosial tersebut aktif di Makassar, Kendari, Palu, Manado, Gorontalo, dan Mamuju. Adapun di wilayah Indonesia timur, relawan terus bergerak di NTB, Lombok, Bima, Sumbawa, Kupang, Ambon, Ternate, Maluku, hingga Papua.
Dalam konteks inilah, Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care Dan Haidar Alwi Institute, Serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa Idul Adha sesungguhnya bukan hanya momentum ibadah tahunan, tetapi juga momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah, kepedulian sosial, dan rasa persaudaraan kebangsaan di tengah masyarakat Indonesia.
Menurut Haidar Alwi, di tengah dunia modern yang semakin individualistis, Idul Adha mengajarkan bahwa manusia tidak boleh hidup hanya memikirkan dirinya sendiri. Sebab salah satu inti ajaran Islam adalah menghadirkan manfaat dan kasih sayang kepada sesama manusia.
“Idul Adha mengajarkan bahwa keimanan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari seberapa besar hati kita mampu peduli kepada sesama. Qurban adalah bentuk nyata bahwa Islam mengajarkan rahmat, kasih sayang, dan pengorbanan sosial agar masyarakat kecil tetap merasakan kebahagiaan di hari raya. Inilah Spiritual Compassion Ethic, yaitu keadaan ketika nilai ketakwaan melahirkan kepedulian sosial dan memperkuat persaudaraan manusia di tengah kehidupan yang semakin keras,” tegas Haidar Alwi.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa qurban dalam Islam memiliki makna yang sangat luas, karena tidak hanya memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarmanusia. Karena itu, Idul Adha menjadi momentum penting untuk kembali menghidupkan budaya berbagi, gotong royong, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Idul Adha dan Makna Ukhuwah Sosial dalam Islam.
Dalam ajaran Islam, ukhuwah atau persaudaraan memiliki kedudukan yang sangat penting. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa seorang Muslim harus mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Karena itu, Islam tidak membiarkan masyarakat hidup dalam ketimpangan sosial tanpa kepedulian terhadap sesama.
Menurut Haidar Alwi, qurban memiliki hubungan besar dengan ketahanan sosial masyarakat karena qurban mengajarkan distribusi kasih sayang dan kepedulian kepada masyarakat kecil. Ketika masyarakat masih mau berbagi kepada sesamanya, maka persaudaraan sosial akan tetap terjaga meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan zaman.
Dalam konteks sosial modern terdapat konsep Humanitarian Social Buffer, yaitu kekuatan kepedulian masyarakat yang mampu menjadi penyangga sosial ketika tekanan ekonomi meningkat. Islam sesungguhnya telah mengajarkan konsep tersebut sejak lama melalui zakat, sedekah, infak, dan qurban sebagai instrumen menjaga keseimbangan sosial masyarakat.
“Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju ekonominya, tetapi bangsa yang masyarakatnya masih memiliki hati nurani sosial. Ketika budaya berbagi tetap hidup, maka masyarakat akan tetap memiliki kekuatan moral dan persaudaraan yang kokoh menghadapi berbagai ujian zaman,” jelas Haidar Alwi.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa Idul Adha sesungguhnya bukan hanya perayaan keagamaan tahunan, tetapi juga bagian dari pendidikan spiritual dan sosial agar manusia tidak kehilangan rasa kasih sayang terhadap sesamanya.
Gerakan Rakyat Bantu Rakyat dan Dakwah Kepedulian Sosial.
Gerakan qurban nasional Haidar Alwi selama ini berjalan melalui jaringan relawan Haidar Alwi Care dan tim Rakyat Bantu Rakyat yang telah berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Keberadaan relawan tersebut menjadi bagian penting karena gerakan sosial yang besar tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah dan narasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata membantu masyarakat.
Dalam konsep sosial modern terdapat istilah grassroots humanitarian network, yaitu jaringan kemanusiaan berbasis akar rumput yang tumbuh langsung bersama masyarakat. Konsep tersebut menggambarkan bagaimana gerakan sosial mampu bertahan karena memiliki relawan nyata di lapangan yang terus bergerak membantu masyarakat secara langsung.
Selain gerakan qurban nasional, Haidar Alwi juga dikenal sebagai pencetus gerakan nasional Rakyat Bantu Rakyat dengan berbagai program sosial, termasuk santunan untuk dua juta anak yatim dan dhuafa. Hal tersebut menunjukkan bahwa dakwah sosial tidak cukup hanya melalui kata-kata, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian nyata kepada masyarakat kecil.
Menurut Haidar Alwi, salah satu tantangan terbesar dunia modern saat ini adalah hilangnya rasa kepedulian sosial akibat manusia terlalu sibuk mengejar kepentingan pribadi. Karena itu, nilai-nilai Idul Adha harus terus dihidupkan agar masyarakat tetap memiliki rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
“Gerakan sosial tidak akan hidup hanya karena popularitas. Yang membuat sebuah gerakan bertahan adalah keikhlasan, pengabdian, dan niat membantu sesama karena Allah SWT. Karena itu saya selalu percaya bahwa semangat Rakyat Bantu Rakyat bukan hanya gerakan sosial, tetapi juga bagian dari dakwah kemanusiaan agar masyarakat tetap menjaga nilai kasih sayang dan persaudaraan,” ujar Haidar Alwi.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan relawan sosial bukan sekadar pelengkap kegiatan kemanusiaan, tetapi bagian penting dari penguatan nilai ukhuwah dan kepedulian sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
150 Sapi untuk Indonesia dan Harapan Besar bagi Persaudaraan Bangsa.
Qurban 150 ekor sapi pada Idul Adha 1447 H ini menjadi simbol bahwa nilai kasih sayang, kepedulian sosial, dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Di saat dunia semakin dipenuhi persaingan hidup, tekanan ekonomi, dan budaya individualisme, gerakan sosial seperti ini menjadi pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesamanya.
Dalam sejarah Islam, masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang maju secara materi, tetapi masyarakat yang memiliki akhlak, kepedulian sosial, dan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia. Karena itu, menjaga budaya berbagi menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan bangsa Indonesia.
“Dunia boleh berubah semakin keras, tetapi Indonesia tidak boleh kehilangan nilai kemanusiaannya. Selama masyarakat masih mau berbagi, membantu sesama, dan menjaga ukhuwah sosial, maka Indonesia akan tetap memiliki kekuatan besar untuk menghadapi masa depan. Bangsa yang besar bukan bangsa yang manusia-manusianya sibuk hidup sendiri-sendiri, tetapi bangsa yang masih menjaga kasih sayang, kepedulian sosial, dan gotong royong sebagai fondasi peradabannya. Di situlah Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi menjadi cahaya spiritual yang menjaga hati nurani bangsa,” pungkas Haidar Alwi.
( Redaksi IN )




